Mengatasi School Refusal – Mogok Sekolah Anak

Diambil dari instagram Reti – @retioktania – tentang pengalaman kami setahun yang lalu waktu Katya mogok sekolah. Terlalu bagus tulisannya buat gak di share disini 🙂


Cerita backgroundnya dulu ya. Sebelum Mischa lahir, saya masih aktif bekerja, jadi Katya ke sekolah sama mama saya. Semuanya lancar sampai akhirnya tiba periode school refusal.

Setelah ditelaah, ternyata di periode itu Katya banyak mengalami perubahan besar.

  1. Saya gak lagi kerja, jadi yang tadinya sekolah diantar Omma, sekarang diantar mama.
  2. Katya punya adik. Dia selalu lihat saya bersama adiknya setiap kali dia masuk kelas.
  3. Katya naik kelas. Guru baru, teman baru, dan pastinya kehilangan sahabat lama di kelas yang lama.
  4. Durasi sekolah lebih panjang. Memang cuma tambah 30-60 menit, tapi buat anak usia 3 tahun, itu adalah perubahan besar.

Di periode ini, Katya SELALU nangis setiap mau sekolah. Nangis di rumah, nangis di mobil, nangis di depan kelas, pokoknya nggak mau masuk ke dalam kelas. Lebih dari sebulan begitu terus kejadiannya.

Yang kami lakukan waktu itu:

  1. Ajak ngobrol Katya, dengar apa yang dia rasakan. Terima keluh-kesah dan tangisannya. Memang penjelasannya belum komprehensif, tapi paling nggak dia tau kalau kita empati dengan apa yang dialaminya.
  2. Saya kurangi antar Katya sambil bawa Mischa. Memang itu pengorbanan besar buat Mischa yang waktu itu masih umur 1-2 bulan, tapi saya pikir 3 jam tanpa saya Mischa pasti baik-baik saja.
  3. Ajak Katya playdate di luar jam sekolah dengan teman-teman barunya. Dulu saya 3 kali playdate sama anak yang berbeda.
  4. Diskusikan dengan guru tentang kondisi Katya. Dan teryata benar, perlu adanya rapport building antara Katya dengan guru barunya. Karena bagaimanapun, sosok guru adalah sosok utama yang akan dipercara oleh anak selama di sekolah. Saya request agar gurunya bisa home-visit. Main sama Katya di rumah kami, tempat dimana Katya merasa nyaman. Main bersama dengan mainan yang dia sudah familiar, sehingga dia punya sense of dominance.

Setelah ke-4 upaya ini dilakukan, gak perlu nunggu lama, hari pertama setelah home-visit Katya sudah langsung lancar sekolah tanpa nangis lagi 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s