Menghadapi Tantrum Baby Katya

Baru beberapa hari kemarin, Katya yang biasanya relatif mudah dibujuk, disuruh, ataupun diminta tolong mendadak menolak keras request mamanya buat sikat gigi pakai odol. Habit baru sih dan dia juga belum biasa pakai odol. Tapi reaksi yang ditunjukkan ekstrim banget, dia nangis, teriak-teriak gak mau, hentak-hentak kaki, sambil sesekali atur strategi biar permintaan mama nya ini bisa dianulir, caranya kadang minta papa atau mbak buat bantu dia.

Kondisinya saat itu di kamar mandi, sebetulnya udah selesai sih semua prosesi mandi, tinggal sikat gigi aja. Katya kekeuh gak mau sikat gigi dan minta keluar buat pakai baju, mama papanya juga ngotot dia harus sikat gigi dulu.

Layaknya pembahasan UU Pilkada, situasinya deadlock. Kedua kubu juga saling lobi-lobi buat ajak kubu satunya buat merubah pendirian tapi gak ada yang mau ngalah. Kasian sih sebetulnya, sampe mamanya ke rak buku buat cek referensi dari ahli-ahli apa sebaiknya kita lebih lunak sedikit ke si anak yang lagi kumat ini.

Hasilnya, semua referensi menyarankan untuk bersikap tegas ke anak, ketika itu menyangkut hal yang besar dan prinsip ya, karna once kota melunak atau kasih toleransi, anak akan menangkap cara protes itu ampuh dan bisa diulang lagi di masa mendatang. Akhirnya dia juga sampai besar gak terbiasa untuk beberapa hal yang mungkin butuh sedikit ‘paksaan’ itu.

Well sebetulnya agak mirip situasi di dunia kerja papa nya sih, kalau di dunia kerja ada opsi juga buat kasih trade off, jadi misalnya Katya mau sikat gigi, dan rajin, nanti dibeliin coklat superman. Cukup memotivasi gak ya? 😛 tapi kayak di dunia kerja opsi ini pilihan terakhir biasanya dan harus hati-hati banget ngeluarinnya.

Di satu dua kasus lainnya sebetulnya kita juga bisa nanya lebih lanjut, elaborasi, sebetulnya needs behind the needs anak ini apa. Misal dia gak mau mandi ternyata setelah ditanya-tanya karna mau bawa kursi kecilnya ke kamar mandi. Challenge nya jelas, masih kecil nya usia anak bikin komunikasinya belum lancar. Tapi layak dicoba daripada gak tau kondisi malah saling kesel-keselan.

Nah menutup kasus Katya ini, akhirnya setelah sekitar setengah jam, papanya masuk ke kamar mandi ajak Katya gosok gigi bersama. Percobaan ketiga sih dua kali sebelumnya gagal. Alhamdulillah yang terakhir, sambil Katyanya dipeluk, dia mau gosok gigi sendiri, dengan baik 🙂

Sesuai juga sama teori negosiasi, manusia itu si awal cenderung denial dan menolak keras untuk beberapa hal dari sisi emosional. Tapi, seiring waktu, dan dibantu sama faktor motivasi lain kalau ada, eventually mereka akan melunak dan mulai bisa milir logis, cari timing ini juga pas anak tantrum, langsung kunci dengan persuasi, harusnya bisa sih berhasil.

Tapi walaupun susah, penuh pressure, dan agak ngeselin situasinya, menurut saya sih satu yang harus dijaga adalah jangan sampai keluar kata-kata emosional yang cenderung negatif dan menyakitkan biasanya.

Yah mudah-mudahan gak banyak kasus begini lagi ke depannya 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s