Menumbuhkan Culture Sikat Gigi untuk Anak Dua Tahun bernama Katya

Dibalik judul yang agak panjang dan terlalu formal diatas, sesungguhnya terjadi sebuah misi panjang dan melelahkan untuk saya dan mamanya Katya terkait dengan apa yang secara formal di kuliah dan kursus disebut sebagai change management. Tujuan utamanya adalah, gimana caranya bikin Katya yang waktu itu umurnya sekitar satu tahun setengah, yang udah mulai suka permen, yang giginya udah lengkap tapi mulai kelihatan kotor, untuk bisa rajin dan suka sama yang namanya gosok gigi. Gak mudah lho, terutama karna kita pengennya dia bukan terpaksa untuk gosok gigi (yang mungkin jadinya nanti Cuma rajin di depan papa mama nya atau sekedar asal-asalan gosok giginya) tapi gimana caranya dia secara sadar suka dan tergila-gila untuk gosok gigi minimal tiga kali sehari. Nah lho.

Approach pertama yang dilakukan mamanya adalah sistem punishment and reward, jadi Katya dibikinin semacam papan sikat gigi, nanti setiap sekali gosok gigi dia akan dikasih stiker, setelah penuh dia akan dapet buku baru. Well di awal Katya semangat, tapi namanya anak-anak lama-lama bosan, stiker udah kurang menarik lagi – mungkin salah kita terlalu lama kali ya minta dia isi stikernya bejibun baru kasih reward, jadi motivasinya agak kurang kayak papanya waktu SD yang rajin makan paddle pop buat dapet hadiah di tangkainya tapi lama-lama bosan karna gak dapet-dapet setelah 5 es habis dan menguras uang jajan 2.500 perak.

IMG_3715.JPG
Metode berikutnya adalah nyari role model yang bikin dia tertarik sama yang namanya sikat gigi. Akhirnya kita cari banyak banget video yang isinya sikat gigi, dari video bayi temen, video elmo feat bruno mars, sampai video upin ipin yang sikat gigi. Gak bisa satu dua doang karna kalo itu-itu aja yang di puter juga ternyata yang bersangkutan bosan. Tapi mulai lumayan mau sikat gigi. Apalagi ditambah inisiatif mamanya buat beliin sikat gigi sesuai apa yang dia minta di supermarket – jadi dia punya sikat gigi kuning kesayangannya yang suka dibawa kemana-mana (diluar beberapa sikat gigi lain yang dibeli tapi kurang di utilize dibanding si kuning).

Terakhir, to make sure the changes will be embedded in her culture sustainably (apa sih), mamanya Katya menemukan buku yang pas banget buat ajak dia sikat gigi. Buku yang sampe di browsing dan pesen online di periplus ini isinya tentang gimana binatang-binatang sikat gigi, even sampe binatang pake benang gigi. Dasarnya Katya emang suka cerita dan story telling, ini kayaknya yang paling bikin dia suka sama yang namanya sikat gigi.

Dan itulah akhir dari project sekitar 6 bulan terkait change management ini 🙂 alhamdulillah, bisa dinikmati proses dan hasilnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s