We Become Ourselves Through Others

Pertama-tama, saya bukan seorang psikolog, cuma seorang ayah yang suka baca satu dua buku buat tahu lebih jauh – at least mencoba tahu lebih jauh, gimana caranya mengoptimalkan perkembangan anaknya. Kebetulan buku yang ada di rak buku dan terpilih untuk dibaca malam ini judulnya The Psychology Book terbitan DK yang ternyata isinya lumayan menarik, dan yang paling penting dijelaskan dengan singkat, padat, terencana, dan terstruktur (pinjem kata-kata trend yang lagi populer di sidang sengketa pemilu Indonesia tahun ini :P).

Alkisan seorang psikolog Russia, Lev Vygotsky (1896-1934) mengangkat pendapat anak-anak sangat baik dalam menyerap wisdom, values, dan pengetahuan teknis dari interaksinya dengan orang-orang yang menjaga anak tersebut, bisa orang tua nya, atau sebagian yang lain mungkin nenek kakeknya atau pembantu dan baby sitter.

Menurut si mas Vygotsky nih masih ya, si pengajar anak-anak ini, lebih baik jika bisa melakukan peran yang instruktif, dimana si pengajar bisa ngasih bimbingan yang berkesinambungan (alias continuous, bahasa Indonesianya apa sih yang lebih tepat?), dan mengiringi si peniru kecil ini untuk bisa bantu mereka fokus, konsentrasi, sambil melatih skill baru.

Jadi pengajar, pastinya butuh skill dan kemauan, yang pasti tingkat kemauannya pasti luar biasa buat orang tua si anak. Makanya banyak sekali teman-teman saya yang secara luar biasa meninggalkan pekerjaannya untuk menjadi guru pribadi anaknya di rumah. Hebat.

Sayangnya karna mama papa nya kerja (maklum keluarga muda masih butuh uang popok), setiap weekdays Katya efektif ketemu pagi sekitar 2-3 jam sampai mama papanya pergi kerja jam 8-9an, plus sore dari jam 6 sampai jam 8an waktu tidurnya. Atau kurang lebih 5 jam.

Nah untuk ngakalin kurangnya kuantitas waktu mengajar itu, mama Katya, every single day (pernah satu dua hari skip yang berujung Katya terdiam pupus harapan di pojokan kasur), bikin mainan baru untuk Katya, dari mulai belajar angka, huruf, cerita, bikin play doh, mewarna, dan sebagainya yang jumlah total karya-nya yang dipajang udah menuhin dinding di kamar Katya.

Jadi malam sampai jam 10-11 mama Katya bikin mainan, yang nantinya di sambut dengan hangat oleh Katya pas bangun tidur sampai selesai main satu dua jam kemudian.

Mudah-mudahan someday, Katya bisa punya lebih banyak waktu buat belajar bareng sama mama papanya. Liat dong ekspresinya kalau lagi main alias belajar sama mamanya 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s