Talenta dan Passion Anak

on

Salahsatu hal yang paling asik dari pekerjaan sebagai seorang marketer adalah kesempatan untuk mengunjungi banyak tempat dan bertemu dengan banyak orang. Capek sih. Tapi dari situ banyak sekali inspirasi, ataupun pendapat baru yang datang dan memperluas pengetahuan – apalagi kalau pendapat itu datang dari orang-orang yang lebih punya banyak pengalaman. 

Kemarin, di perjalanan saya dan seorang rekan ke Sukabumi, kami berbincang banyak tentang pendapat masing-masing mengenai pendidikan anak. Teman saya ini, namanya Silverius Hotto, yang juga punya anak umur 3 tahun (setahun diatas Katya), menyampaikan pendapatnya bahwa sebagai orangtua dia akan mencoba menggali potensi terbesar apa yang dimiliki anaknya, dan dengan sepenuh hati men-support agar anaknya memaksimalkan potensi tersebut. Bahkan dengan menariknya dia juga menceritakan salahsatu metode untuk menggali potensi anak tersebut adalah dengan identifikasi sidik jari – sebuah metode asal Taiwan kalau saya tidak salah ingat (yang berhubung mas Hotto ini dulunya datang dari jurusan statistik, challenge saya tentang bukti statistik dari metode ini berujung pada agreement bahwa metode ini harus digali lebih dalam – personally saya agak kurang percaya potensi personal terlihat dari sidik jari atau anatomi tubuh lain).

Pendapat yang menarik dan sepenuhnya saya setuju bahwa sebagai orangtua kita harus mendukung penuh apa yang menjadi potensi anak, tapi dalam diskusi kemarin ada asumsi yang berbeda, dimana menurut mas Hotto ini potensi anak adalah sama dengan passion anak. Jadi apapun yang jadi potensi dia, apa yang jadi gift seorang anak dari Tuhan, pasti menjadi passion anak ini. Misalnya kalau Katya punya potensi suara yang bagus, dia pasti akan sangat suka dan ingin menjadi penyanyi. Sementara menurut saya pribadi, potensi anak itu memang sesuatu yang jika dia lakukan dengan baik, dia akan menjadi sangat spesial di bidang tersebut, tetapi bukan sepenuhnya berarti dia akan suka melakukannya. Potensi (menurut saya) tidak sepenuhnya bisa di translate sebagai passion seseorang. Dan kalau disuruh memilih, saya akan lebih support apa yang akan menjadi passion si anak, walaupun itu bukan potensi terbesar anak tersebut – karna ketika kita menjalani apa yang menjadi passion kita (at least di pengalaman saya pribadi ya), hidup itu berasa arena bermain, arena improvisasi, dengan pencapaian tingkat kebahagiaan yang tertinggi. 

Yah namanya juga diskusi dua orang yang belajar dari keterbatasan ilmunya masing-masing. Satu orang lulusan statistika, satu orang engineer. Mungkin ada yang bisa bantu kami lebih dalam tentang hal ini? Lumayan untuk diskusi lanjutan suatu saat nanti 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s